Kegunaan Storytelling Dalam Meningkatkan Penjualan Online UMKM

Di era kemajuan teknologi saat ini, semua hal bisa diakses secara online, termasuk jika konsumen membeli suatu produk. Para pemilik usaha berlomba-lomba untuk ikut serta mempromosikan produknya secara online lewat media sosial, website maupun aplikasi salah satunya melalui storytelling.

Storytelling untuk bisnis diartikan sebagai sebuah metode penyampaian pesan atau informasi secara lebih menarik dengan tujuan mengubah perasaan audiens. Jika pelaku usaha dan kompetitor menawarkan produk dengan harga dan manfaat fisik yang sama, maka Anda harus mampu memunculkan keunggulan kompetitif atau keuntungan lebih yang bersifat non-fisik kepada pelanggan agar produk dipilih.

Kepada 50 pelaku UMKM peserta sesi Business Assessment online di program Grab #TerusUsaha Akselerator UMKM, Liza Dwi Ratna, Pakar Komunikasi dan Dosen Fikom Universitas Budi Luhur mengatakan strategi storytelling adalah sebuah penyampaian cerita yang otentik (orisinal) dan emosional tentang suatu merek untuk kepentingan promosi.

Dengan kata lain, storytelling ini mempresentasikan karakter brand lewat cerita. Begitu juga dengan produk yang akan dipasarkan. Saat mengunggah gambar produk, akan lebih bagus jika Anda bisa menyelipkan cerita dalam kolom deskripsinya, misalnya tentang dari mana bahan baku produk itu berasal, bagaimana proses pembuatannya, dan apa saja keunggulan produk tersebut.

Liza menjelaskan ide membuat storytelling bisa didapatkan melalui pengalaman dari pelanggan saat membeli, pengalaman pribadi, informasi dari internet, manfaat produk, bahkan isi serta bahan baku yang digunakan dalam produk.

Dalam membuat promosi iklan, pelaku usaha harus bisa membuat konsumen merasa bahwa mereka tidak sedang melihat iklan. Selain itu, dalam membuat promosi melalui storytelling jangan membuat cerita tidak masuk akal dan tampak berbohong.

Liza memberikan beberapa langkah dasar dalam menyusun brand storytelling yaitu, pertama pelaku usaha harus memahami nilai (value) brand dan konsumen yang ditargetkan. Kedua, mendapatkan fakta mengenai kebutuhan konsumen melalui konsep 5W+1H.

Ketiga, gunakan kekuatan cerita yang spesifik, detail, serta imajinasi yang mudah dipahami oleh konsumen. Keempat, dalam membangun storytelling jangan hanya menggunakan kata-kata namun harus lebih kreatif dengan gambar. Dan yang terakhir, pahami hasil akhir yang ditangkap konsumen saat awal membuat cerita.

Unduh Dokumen Pendukung :