Mampukah Kuliner Indonesia Bersaing di Pasar Vietnam?

Vietnam dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan ASEAN dan jumlah penduduk mencapai 97 juta merupakan pasar kuliner yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pelaku usaha di Indonesia diharapkan dapat menggunakan peluang tersebut untuk memperluas jangkauan usahanya ke pasar internasional.

Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal RI di Ho Chi Minh City (KJRI HCMC) turut melakukan upaya aktif untuk mempromosikan Indonesia agar semakin dikenal di pasar internasional, khususnya di Vietnam.

Dalam forum diskusi “Mampukah Kuliner Indonesia Bersaing di Pasar Vietnam?” yang diadakan secara daring pada Selasa (29/9/2020), Hanif Salim, Konsul Jenderal RI Ho Chi Minh City memaparkan bahwa kuliner Indonesia memiliki peluang dan potensi besar dengan beberapa faktor pendukung yang ada.

Menurut data lembaga survei Vietnam Report, masyarakat Vietnam rata-rata membelanjakan 1/3 pendapatannya untuk konsumsi makanan dan minuman. Belanja konsumen masyarakat Vietnam mencapai US$185 miliar dan diproyeksikan tumbuh 7,9 persen melebihi pertumbuhan di Indonesia sekitar 5,5 persen. Selain itu, peningkatan jumlah kelas menengah atas Vietnam khususnya yang tinggal di Ho Chi Minh City juga menjadi potensi besar bagi pasar kuliner Indonesia.

Potensi kuliner Indonesia di Vietnam juga memiliki berbagai faktor pendorong yaitu untuk memenuhi kebutuhan warga asing di Vietnam khususnya di Ho Chi Minh City yang menyukai cita rasa kuliner Indonesia baik yang tinggal ataupun sekadar berkunjung ke Vietnam.

Namun kenyataannya, kuliner Indonesia belum banyak dikenal oleh masyarakat Vietnam bila dibandingkan Thailand, Malaysia, dan Singapura yang lebih populer. Hal ini terbukti dari jumlah restoran asli Indonesia di Vietnam yang saat ini hanya berjumlah 2 gerai. Salah satu faktor utama kendalanya yakni mahalnya biaya sewa gedung atau tempat di Vietnam yang sekali buka memerlukan biaya hingga US$15.000 atau sekitar Rp. 223 juta.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Hanif menjelaskan dapat dilakukan melalui beberapa konsep. Pertama yaitu konsep restoran fine dining dengan modal sekitar US$ 100-300 ribu untuk menempati di kawasan elit. Kedua menggunakan konsep waralaba dengan modal US$ 30-50 ribu yang bisa terdiri dari 2-3 inverstor dan melibatkan investor lokal. Ketiga, dengan konsep food court dengan investasi US$ 4.000 per bulan.

Forum Diskusi Online "Mampukah Mampukah Kuliner Indonesia Bersaing di Pasar Vietnam?" bersama KJRI HCHC, Selasa (19/9/2020). (Foto: Sahabat UMKM) 

 

Walaupun Vietnam menjadi pasar yang memiliki tantangan penetrasi tersendiri, Yuana Rochma Astuti, Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf tetap optimis kuliner Indonesia memiliki potensi besar jika dilakukan dengan strategi promosi yang sesuai sasaran.

Yuana mengatakan, Kemenparekraf memiliki tiga strategi untuk terus mengenalkan kuliner lokal di pasar internasional. Pertama yaitu strategi Branding dengan lima kuliner nasional (sate, soto, rendang, gado-gado, dan nasi goreng) serta melakukan co-branding Wonderful Indonesia dengan restoran di berbagai negara. Kedua melakukan strategi Boosting yaitu menjadikan Ubud, Bali sebagai UNTWO Gastronomy Destination Tourism Prototype. Dan terakhir melalui strategi Buliding, yakni dengan membangun destinasi wisata kuliner yang memiliki amenitas sentra kuliner, restoran, dan produk lokal.

Levita Supit selaku Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indoensia (WALI) mengatakan pelaku usaha masih memiliki peluang untuk mendorong bisnis waralaba kuliner hingga ke pasar asing. Beberapa brand waralaba lokal yang berhasil yaitu J.Co Donuts, Kebab Baba Rafi, Es Teler 77, Ayam Bakar Wong Solo, dan lainnya.

Maka dari itu, selama dua tahun lalu Levita terus gencar mendorong pelaku usaha ke pasar internasional salah satunya dengan bersinergi dengan asosiasi negara terkait dan Kedubes Indonesia.

Sementara itu, Joanina Novinda selaku Ketua Umum Sahabat UMKM mengatakan jika mayoritas (93%) pelaku usaha di Indonesia merupakan pelaku usaha mikro. Berdasarkan data tersebut, Ia berharap dilibatkannya para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam berbagai strategi dan langkah yang telah dilakukan para stakeholder untuk mengenalkan produk kuliner Indonesia agar dapat merambah pasar internasional.

Selain itu, melalui gastrodiplomasi, Ia berharap dapat menjadi langkah untuk memfasilitasi pelaku UMKM untuk dapat mengembangkan potensi usaha serta menjual produknya di pasar Vietnam.

“Contohnya misalkan dengan konsep Foodcourt yang di dalamnya bisa menampung produk UMKM sehingga bisa memberikan kesempatan yang baik. Sehingga nantinya pelaku UMKM tidak hanya berjualan, namun bisa mengeksplor pasar asing,” pungkas Joanina.

Forum diskusi online yang diadakan oleh KJRI HCMC ini menghadirkan pembicara utama Hanif Salim, Konsul Jenderal RI Ho Chi Minh City; Yuana Rochma Astuti, Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf; Levita Supit' Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI); Joanina Novinda, Co-Founder & Ketua Umum Sahabat UMKM; Yudi Purwanto Harijono, Entrepreneur & F&B Specialist; Arie Aripin, Direktur PT Jakarta Coffee Premium; dan Danny Hidayat, Co-Owner We-Link Co., Ltd. 

Unduh Dokumen Pendukung :